Pepes Jambal Ibu Mamah

WALAHAR – Sama seperti pepes jambal Hj. Emin dan Hj. Dirja, pepes jambal Ibu Mamah juga sudah hadir dari lama.Pepes jambal yang berlokasi di Jalan Bendungan Walahar ini ternyata sudah didirikan sejak tahun 1995. Hingga saat ini, pepes jambal Ibu Mamah sudah diturunkan hingga satu generasi, namun resep dan cara masaknya tidak pernah berubah.

Kini, pepes jambal Ibu Mamah ditangani oleh menantu Ibu Mamah, Tika. “Kita sudah pernah buka juga di Tangerang, tapi sekarang sudah tutup, jadi di sini saja,” kata Tika. Menurutnya, tantangan terberat dalam usaha rumah makan pepes jambal adalah ketika ikan sedang tidak musim atau sulit didapat.

“Paling susahnya kalau pas enggak ada ikan sih, harga ikan jadi mahal, kita juga jadi bingung, mau naikin harga nanti enggak laku, kalau enggak (naikin harga), kita jadi enggak nutup (modal),” kata Tika.

Walaupun begitu, RM Pepes Jambal Ibu Mamah dari dulu selalu pakai ikan patin untuk pepes jambalnya. Sama seperti RM Pepes Jambal Hj. Emin dan RM Pepes Jambal Hj. Dirja, pemakaian ikan patin sebagai bahan baku utama pepes jambal tidak pernah berubah. Alasannya juga sama, untuk mepertahankan cita rasa dan karena sudah menjadi khas pepes jambal desa Walahar.

Sama seperti RM Pepes Jambal lainnya yang ada di Walahar, RM Pepes Jambal Ibu Mamah juga dulu mengambil langsung ikan patin dari sungai Citarum, namun kini sudah tidak lagi, semenjak limbah pabrik mulai mengotori sungai Citarum. Jadi sejak ikan patin dari sungai Citarum sudah tidak layak untuk dimasak lagi, semua RM Pepes Jambal selalu membeli ikan patin dari pasar.

 

Harusnya pemerintah lebih serius terhadap kehidupan sekitar sungai, terutama sungai yang dikotori limbah pabrik. Karena di sekitar sungai, pasti banyak sekali kehidupan manusia. Jadi bila sungai kotor, maka fungsi sungai sebagai sumber kehidupan manusia menjadi mati.

Beruntung kini ada program KKN Citarum Harum, yang dicanangkan langsung dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Program ini bercita-cita untuk mengembalikan kejayaan sungai Citarum, yang di dalamnya ada kampus UMN yang berfokus terhadap perbaikan kualitas sumber daya manusia sekitar Citarum, salah satunya melalui memajukan media desa dan peningkatan potensi desa.

 

Penulis             : Wilfridus Andrew Francois

Fotografer       : Daniela Dinda A.

 

Spread the word. Share this post!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: